Mas Sehat | Blog Tentang Kesehatan | Mas Sehat ~ Blog Tentang Kesehatan | www.mas-sehat.com

Imelda Akmal : Menata Rumah Mungil

Semuanya bermula pada 1996. Setelah tiga tahun bekerja, Imelda Akmal dan Sonny Sandjaya memutuskan keluar dari pekerjaan mereka di sebuah majalah. Padahal, keduanya telah berencana menikah. Keputusan yang tak urung membuat keluarganya tersentak, khawatir, dan deg-degan.

Namun, rupanya mereka berdua sudah punya rencana matang. Imelda dan Sonny akan menerbitkan sebuah buku. Imelda yang akan menulis dan Sonny menjadi fotografernya. Ternyata, ketika buku Seri Menata Rumah Mungil terbit pada 1996, sambutan yang diterimanya luar biasa. Menjadi buku interior terlaris di Indonesia, buku itu kini sudah memasuki cetakan ke-12. Saat ini paling tidak sudah 12 buku telah dia terbitkan, beberapa seri lainnya tengah dalam penggarapan. Namanya pun boleh dibilang identik dengan segala tulisan tentang desain interior.

Untuk memperlancar pekerjaannya, perempuan yang sempat belajar dekorasi interior di Royal Melbourne Institute of Technology, Australia, sekaligus belajar manajemen dan meraih Master of Business Administration dari Swinburne University of Technology ini membangun studio Imelda Akmal Architecture Write di sebelah rumahnya di bilangan Rempoa, Ciputat. Bersama sang suami Sonny, Imelda dibantu lima orang rekannya empat di antaranya arsitek.

Di sebelah studio itulah Imelda tinggal. Di ruang tamu rumahnya, Imelda berkisah tentang perjalanan karier tulis-menulisnya pada wartawan Republika Burhanuddin Bella bersama fotografer Amin Madani. Ditemani sang buah hati Muhammad Rayhan (4,5 tahun) yang baru saja pulang sekolah, Imelda bertutur.

Bagaimana ceritanya sampai Anda menekuni pekerjaan ini?
Sebenarnya saya bukan menekuni desain interior. Background saya arsitek, saya menekuni penulisan bidang interior dan arsitektur. Jadi, saya tidak berpraktik sebagai desainer interior. Selesai sekolah, saya langsung kerja di Femina. Saya menangani rubrik artikel desain interior dan taman. Sejak itu saya berkecimpung di dunia tulis-menulis. Setelah itu mulai membuat buku, desain interior itu.

Apakah sejak awal tertarik untuk menjadi penulis?
Awalnya saya tidak pernah terpikir untuk jadi seorang penulis atau punya studio penulisan seperti ini. Itu mengalir saja. Awalnya karena saya kerja di majalah, jadi saya tahu bidang tulis-menulis yang semula saya tidak tahu sama sekali. Waktu itu, begitu selesai sekolah (di Universitas Trisaksi) terus ada kesempatan bekerja di majalah. Ternyata buat saya, penulisan itu menarik sekali. Sangat menarik. Di situ saya tahu media dan menyenangi media. Tadinya sih tidak tahu sama sekali. Biasanya, kan baru lulus, bidang apa saja kita masuki, kita coba.

Anda hanya menulis?
Saya tidak berpraktik sebagai konsultan atau desainer. Karena banyak orang yang masih merasa bahwa saya juga pasti seorang desainer interior yang punya konsultan. Padahal tidak. Karena lazimnya, ketika selesai kuliah desain interior atau arsitektur, pasti praktik dan punya konsultan. Bidang penulisan arsitektur interior, itu yang belum banyak ditangani orang.

Ketika akhirnya membuat buku, apa yang menjadi inspirasi Anda saat itu?
Waktu itu saya menulis yang sifatnya praktis, karena itu majalah. Dulu, sebelumnya saya banyak mengulas soal rumah-rumah mahal dan indah. Itu tidak sesuai dengan jiwa saya. Waktu itu masih muda, kebutuhannya lain. Saya lihat juga, banyak hal-hal menarik yang sifatnya praktis. Saya tulis hal-hal yang praktis itu. Ternyata, animonya tinggi sekali. Sampai saya tahu bahwa pembaca mengkliping, karena sifatnya tip-tip praktis untuk membuat sesuatu. Saya pikir, kenapa tidak dijadikan buku? Kalau dalam buku bisa lebih dalam, menyimpannya bisa lebih baik. Di situ kita punya ide, terbitkan dalam bentuk buku. Apalagi waktu itu buku interior kan kurang sekali. Hampir tidak ada. Yang ada pun sudah hampir out of date.

Apakah naskah buku itu merupakan revisi dari naskah di media?
Bikin baru sama sekali. Karena yang diklipling itu sifatnya benar-benar cuma pecahan-pecahan. Misalnya sebuah dapur, ya udah tentang dapur itu saja yang saya bahas. Kalau di majalah kan hanya 2-4 halaman, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Paling dapat 2-3 foto dengan dua halaman teks. Ketika saya bikin buku, saya harus membuat yang sangat terstruktur dan dalam. Jadi, kita bikin betul-betul hal yang baru sekali waktu itu. Kita foto baru, tulis baru.

Jeli melihat pasar. Agaknya inilah kelebihan Imelda. Ketika akan membuat buku, dia sibuk mencari tahu fenomena yang mencuat saat itu. Penulis di berbagai majalah ini pun melihat booming properti untuk rumah-rumah bertipe kecil. Namun, di saat bersamaan, mereka kesulitan untuk menyesuaikan perabot yang pas untuk rumah mungil. ''Itu saya pikir bagus untuk pengetahuan pembaca. Saya angkat pertama tentang menata rumah mungil karena saya lihat kebutuhan-kebutuhan itu belum terakomodasi. Itulah buku pertama yang lahir.'' Ternyata, intuisinya terbukti. Sukses dengan buku pertama, Imelda pun bergerak dengan buku-buku selanjutnya. Dia pun membahas ruang per ruang dalam rumah. ''Ruang kamar untuk anak, dapur, ruang makan, ruang duduk. Semua ruang kita bahas satu per satu dalam satu seri.''

Bagaimana proses pencarian ide?
Biasanya kita lihat justru secara global. Orang butuh apa sih? Saya ambil dari sesuatu yang general, misalnya kita lihat orang butuh apa, atau ada perubahan apa sekarang yang orang perlu panduan. Itu banyak sekali. Juga dari jalan-jalan. Ada satu ide yang membuat saya juga terdesak untuk membuat sesuatu yang lain, bukan interior. Ketika pulang dari Australia, kita baru lihat betul-betul bahwa ternyata di Indonesia ini banyak sekali yang di luar nggak punya. Sebelumnya kan nggak, karena kita lahir di sini, besar di sini. Itu yang melahirkan ide-ide sangat banyak.

Tidak khawatir suatu saat kehabisan ide setelah semua hal sudah tergarap?
Kalau saya lihat ke negara lain, bukan jenuh malah berkembang terus. Kita malah masih bayi, sebenarnya. Apalagi orang Indonesia atau dunia itu dinamis. Sekarang kita bikin rumah pakai AC, ke depannya tidak bisa pakai AC. Kita harus berpikir bagaimana supaya low energy. Itu perubahan besar yang saya lagi baru mau sentuh, baru mau belajar. Kita lagi belajar ke arah situ. Sepuluh tahun lalu ketika buku saya masih satu-satunya, buku interior tidak punya tempat. Karena cuma satu, dia nyelip-nyelip di antara buku-buku lain. Sekarang, interior punya sales sendiri. Bahkan kadang-kadang taruh di depan kalau lagi promosi. Itu kan perubahan yang luar biasa. Dulu kalau orang bikin rumah, udah panggil aja tukang atau saudara yang arsitek. Sekarang nggak. Sebelum panggil arsitek, mereka baca dulu.

Sudah berapa buku yang diterbitkan?
Sampai sekarang 12, yang akan terbit 5 lagi. Sekarang kita (Studio Imelda Akmal Architecture Writer) punya produk baru terbit bulan ini (Seri Rumah Ide). Kita komit terbit bulanan. Jadi, kita ke buku, tapi dengan perbedaan pasar. Lebih tipis, isinya bisa bermacam-macam. Seperti buku, satu tema, tapi lebih tipis dengan kualitas kertas lebih rendah, sehingga harganya lebih ekonomis. Targetnya lebih ke bawah dibanding yang lain. Ternyata ketika kita naik kelas terus, pasar ke bawah jadi nggak terambah. Sayang. Jadi, kita bikin ini dengan tema yang lebih spesifik. Tema ini pun tidak bisa dijadikan buku yang tebal.

Ketika menerbitkan buku dibantu berapa orang?
Lima orang, 4 arsitek. Waktu dulu, saya cari orang buat membantu, itu setengah mati. Sampai teman yang arsitek, bekerja di majalah lain diminta bantuin, nggak komit. Nggak tahu, mungkin belum serius, ya. Jadi saya kalau ke kampus, saya bilang sama mahasiswa, ''Sekarang ini perubahan luar biasa. Anda sekolah arsitek jadi desainer, bukan cuma itu yang bisa dikerjain. Banyak hal lain, salah satunya penulisan.'' Nah, setelah itu, kita jalan ke beberapa kampus, bilang seperti itu, akhirnya sekarang kalau buka lamaran sudah lumayan. Tadinya susah. Semua targetnya konsultan, atau terus akhirnya ke mana aja deh.

Anda sendiri melihat bagaimana tren desain interior sekarang? Sekarang kan perubahan dunia cepat, dalam sisi apa pun. Banyak orang yang sebenarnya bingung dalam interior. Saking cepatnya sampai tidak bisa mengikuti. Interior juga begitu. Misalnya sekarang orang ribut-ribut soal hi-tech, minimalis, dan segala macam. Banyak orang yang gamang, kan? ''Ah, paling cuma sebentar. Ini mau ke mana, nantinya?'' Tren-tren itu dalam desain arsitektur, sebetulnya tidak betul. Karena apa? Arsitektur bukan baju atau fashion yang sifatnya temporer. Memang kalau fashion harus diciptakan seperti itu. Baju kalau nggak suka, kita masukin lemari, selesai masalahnya. Tapi, arsitektur tidak seperti itu.

Berarti tidak ada yang namanya tren?
Tidak ada. Dalam arsitektur, salah besar kalau kita mengatakan tren. Saya paling geli kalau mau akhir tahun ada yang datang, ''Mbak, tren tahun depan apa?'' Saya sampai bilang begini, produk arsitektur itu dibuat dalam jangka waktu berapa tahun. Orang berpikir untuk membuat rumah bertahun-tahun. Dirancangnya mungkin 6 bulan sampai setahun. Dibangunnya, kalau rumah tinggal mungkin setahun. Kalau misalnya hotel, bisa lima tahun. Dan itu produk yang terpakai. Masak kalau sekarang kita beli rumah minimalis, ketika rumah jadi dan baru setahun, kita merasa rumah kita kuno karena ada tipe apa lagi. Itu kan tidak betul. Jadi, esensinya bukan itu.

Keberhasilan Imelda menjadi seorang penulis agaknya tidak membuat semua orang menaruh hormat. Perempuan kelahiran Jakarta 31 Mei 1969 ini tampaknya tidak akan lupa pada kata-kata seorang pakar manajemen terkenal. Ketika itu Imelda dan sang pakar itu sama-sama menjadi pembicara di Bandung. Setelah usai, sang pakar mendatangi stan yang dibuka Imelda. Dia pun berkata, ''Oh, jadi ini buku-buku kamu, bagus. Ini menjadi sebuah jalan untuk kamu sebagai arsitek.'' Imelda mengaku tidak berpraktisi sebagai arsitek. ''Saya penulis murni,'' ujarnya. Komentar sang pakar, ''Ah sayang, dong? Mana bisa hidup kamu?''
''Saya sudah 10 tahun menjalani, dan saya masih hidup. Dia saja menganggap bidang ini tidak bisa hidup. Itu yang membuat orang terus tidak mau jadi penulis,'' tutur Imelda dengan nada tinggi.Komentar miring seperti itu tampaknya tidak akan mampu mengendurkan langkah Imelda. Bersama sang suami, Imelda justru mempercepat lajunya.

Seberapa besar peran Sonny dalam penerbitan buku?
Sangat besar. Intinya kita kolaborasi, bersinergi. Karena, selain foto, kita banyak berpikir berdua untuk membuat sesuatu. Meskipun background arsitek dimiliki oleh saya, tapi kan kita tukar ide, terus keyakinan segala macam, kita berdua.

Ada kendala dalam kebersamaan mewujudkan ide bikin buku?
Kalau untuk menerbitkan, hampir nggak ada. Malah jadi pendorong, bukan kendala.

Untuk menulis, sekarang Anda tidak sendiri lagi?
Kalau sekarang nggak. Jadi, untuk yang tim, kita sudah bikin Studio Imelda Akmal Architecture Writer. Yang kerja berarti studio. Ketika belum dibantu teman-teman, setahun satu, dua (buku). Kadang-kadang dua tahun satu (buku). Ya, suka-suka hati aja, walaupun tetap mencoba profesional. Kita dari dulu, jam 9 sampai jam 5 (17.00) waktu kerja. Dari awal harus begitu. Kita keluar dari kerja, berarti kita harus menyisihkan waktu. Tapi tetap aja, namanya kita cuma berdua, ''Ke mal yuk.'' Tapi sekarang, sejak dibantu, ya harus ada target, setahun sekian buku.

Ada bayangan bagaimana ke depannya?
Visi kita sebetulnya mensosialisasikan desain arsitektur interior ke orang awam dengan berbagai cara. Paling besar porsinya sekarang buku. Dan orang awam itu lapisannya banyak sekali. Kita belum bisa merambah semua, masih banyak yang belum tergarap. Apalagi yang profesional, sama sekali tidak ada media. Kita belum punya media untuk mahasiswa arsitektur, kita belum punya media untuk profesional arsitektur, kita belum punya media yang orang bawah banget.

Kenapa tidak banyak arsitek tertarik menulis buku?
Ada dosen datang, pengen bikin buku tentang rumah Muslimah yang semua pakai kaidah-kaidah Muslim. Bagus, coba bikin dong. 'Ya, tapi ...'' Banyak tapinya. (Beda dengan) di luar negeri. Ada (arsitek) yang jadi penulis profesional. Bahkan sudah ada sekolahnya sampai S2, S3, hanya sebagai kritikus.

Sebenarnya, rumah yang ada jiwanya seperti apa?
Apa ya? Keterkaitan antara yang punya rumah dan rumahnya sendiri itu seperti apa. Kalau misalnya rumah adalah sesuatu yang berharga buat dia dan memang diperhatikan betul, itu terasa. Meskipun sangat sederhana, rumah itu enak aja. Pas masuk, banyak artilah di situ. Tapi meskipun rumahnya besar, tapi kayaknya kosong, terasa juga. Tapi yang seperti itu tidak bisa ditangkap dalam foto.

Bagaimana Anda mendesain rumah sendiri?
Ini rumah saya bikin 1995. Jadi ini selera tahun 1995. Tapi kalau dari segi tampilan, sekarang saya pengen yang lain. Tidak seperti ini. Tapi dari segi fungsi, ini luar biasa. Dari mana pun kita dapat udara. Anak saya bisa lari-lari dari depan ke belakang. Di atas ada 2 kamar tidur yang semuanya angin bisa masuk ke luar dan pemandangannya bisa langsung ke luar. Pokoknya kenyamanan sudah dapat banget.

Jasa Online Desain dan Pemborong Rumah 021-73888872
Terima kasih telah membaca artikel tentang Imelda Akmal : Menata Rumah Mungil di blog Bangun Renovasi Rumah Cheria jika anda ingin menyebar luaskan artikel ini di mohon untuk mencantumkan link sebagai Sumbernya, dan bila artikel ini bermanfaat silakan bookmark halaman ini diwebbroswer anda, dengan cara menekan Ctrl + D pada tombol keyboard anda.

Artikel terbaru :

Mas Sehat | Blog Tentang Kesehatan | Mas Sehat ~ Blog Tentang Kesehatan | www.mas-sehat.com

Artikel Terpopuler